Senin, 23 Januari 2017

TILL THE END | #10DaysKF

Jatuh cinta itu soal gampang, move on yang susah.


Aku menemukan  kata-kata itu dari buku harian kakakku seminggu yang lalu. Tercetak tebal di antara tulisannya yang lain. Apa kakakku sedang patah hati ya? Memangnya sesakit itukah patah hati? Apa sampai membuat orang macam kakakku yang keras kepala jadi melunak? 


Pikiranku tertepis jauh saat aku menyangkal sakit hati itu sendiri. Berhubung aku belum pernah jatuh cinta apalagi pacaran, jadi aku belum pernah tahu apa itu patah hati. Setidaknya dari cerita telenovela yang aku baca, patah hati tidak akan melepas orang yang jatuh cinta. Sama seperti orang yang sukses, mereka tidak akan berjaya tanpa pernah terjatuh atau gagal terlebih dahulu. Apalagi cinta.


Hingga di usiaku yang ke delapan belas tahun, aku baru tahu bagaimana memiliki kekasih. Namanya Dino Satyabisma. Semua teman mengatakan aku beruntung, karena Dino terhitung masuk jajaran anak populer di sekolah. Anak basket, masuk OSIS, dan juga anak IPA. Kecintaan guru dan siswi perempuan di sekolahku. 


“Lo kurang beruntung apa punya Dino, Grace? Dia tuh udah punya segalanya,” kata beberapa teman dekatku kala itu. Ya, aku memang membenarkan awalnya. Sampai aku menemukan hal yang tidak diketahui orang lain tentang Dino.


Dia pecandu. Aku tahu hal itu saat dia mengajakku ke rumahnya dan menemukan beberapa obat-obatan terlarang. Kakakku seorang polisi, jadi aku bisa membedakan mana obat untuk penyakit dan mana narkoba. Paling tidak aku tahu dasar-dasarnya tentang obat seperti itu. Tapi Dino sama sekali tidak menyembunyikannya dariku. Dia malah terang-terangan menunjukkannya padaku. 


Hari itu dia bercerita padaku, tentang segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Keluarga yang kaya tidak beguna banyak baginya. Teman dan kepopulerannya di sekolah hanya bisa membahagiakannya sesaat saja. Dia kekurangan kasih sayang karena orang tuanya sudah bercerai saat dia masih bergelimpung di Sekolah Dasar.


“Rumah itu bukan tempat, Grace,” katanya padaku. “Rumah itu perasaan. Kita punya rumah gede juga percuma kalau nggak bisa ngerasain arti rumah itu sendiri, kan?” 


Aku hanya mengangguk kecil. Tidak bermaksud membenarkan omongannya, hanya tidak ingin menyela ceritanya. Semua orang berhak memandang hidup dengan pemikiran mereka. Termasuk Dino, yang mungkin lebih menikmati hidupnya dengan cara seperti ini.


“Oh iya, Din, aku diem bukan berarti aku setuju sama kamu yang pake barang itu, ya,” kataku padanya pelan. Menjaga perasaannya agar dia tidak tersinggung. “Aku cuman menghargai kamu. Tapi kalau kamu mau berhenti, aku bakalan bantu kamu.” 


Kali itu dia tidak menjawab apa-apa. Hanya tersenyum kecil dan menggenggam tanganku.


* 


Seminggu kemudian Dino memutuskanku. Aku tidak tahu sebabnya apa tapi dia memutuskanku dengan cara yang baik. Aku tahu Dino bukan tipikal pengecut. Dia berani mengungkapkan isi hatinya, baik dalam kondisi sadar maupun memakai barang haram itu.


Keputusan Dino bukan hanya menjauhiku. Dino juga keluar dari OSIS, tim basketnya pun mengatakan kalau Dino sudah mengundurkan diri. Hingga lambat laun, batang hidung Dino tidak pernah terliat lagi di sekolah. 


Pikiranku saat itu was-was. Takut terjadi hal yang tidak semua orang inginkan. Semua orang menyayangi Dino. Termasuk aku yang baru beberapa bulan dekat dengannya. Mungkin ada perasaan sayang, tapi tidak sebesar itu. Jujur saja, aku takut patah hati. Bagaimana jika aku segalau kakakku?


“Nih ya, gue kasih tau, kalau lo putus sama Dino, lo nggak bakalan bisa move on deh. Dia itu nggak bakalan bikin orang nyesel udah pacaran sama dia. Tapi dia bakal bikin orang nyesel karena udah mutusin dia,” beberapa waktu lalu aku diberi nasihat seperti itu oleh seseorang. 


Pikiranku melesat jauh. Jika aku menyesal, pasti ada sesuatu yang sangat berharga yang aku lepaskan dari genggamanku. Jika aku tidak menyesal, mereka pasti mengatakan kalau aku hanya main-main saja dengan Dino selama ini. Tapi menuruti apa kata orang itu tidak akan ada habisnya. Yang ada malah kita sendiri yang lelah.


Pada akhirnya, aku menutup telinga. Hanya Dino yang menjadi pusat perhatianku selama ini. Aku mencari keberadaannya. Bertanya pada teman-teman tongkrongannya, teman main basketnya, teman sekelas, bahkan aku nekat datang ke rumahnya dan bertanya pada satpam di rumahnya. Namun hasil yang aku dapat tetap nihil. 


“Loh, mbak ini kan pacarnya mas Dino, kan?” tanya satpam rumah Dino saat aku hampir menyalakan sepedaku hendak pulang ke rumah.


“Iya, Pak. Eh, saya mantannya Dino.” 


“Anu... mbak namanya siapa?” tanyanya lagi.


“Grace, Pak.” 


“Sebentar mbak, ada titipan.”


Satpam rumah Dino memberikan bungkusan kotak besar berwarna coklat padaku. Aku tak tahu apa isinya, namun kuterima bingkisan itu dengan senyuman. Kutinggalkan rumah Dino dengan wajah tidak enak. Aku merindukannya. 


Sampai di rumah, aku membuka bingkisan itu. Isinya sebuah boneka dan sebuah album foto. Di dalamnya terdapat foto kami berdua. Ada beberapa foto yang sengaja diambil tanpa sepengetahuanku selama ini. Aku tersenyum kecil. Lalu sampai di belakang, semakin ke belakang halaman, aku menemukan fotonya yang pucat. Beberapa menunjukkan foto dia berada di rumah sakit. Dia sangat pucat saat memakai baju berwarna hijau rumah sakit. Kadang ada foto yang menunjukkan dia tertidur dengan pulasnya. Dan melihat jajaran foto-foto itu, air mataku sama sekali tidak menetes.


Di akhir album foto, aku menemukan dua buah surat. Yang pertama dari Dino untukku. Tulisannya sangat khas sekali. 


Dear, Grace.
Halo, Babe. Mungkin saat kamu baca surat ini, kita udah putus ya? Maaf karena jadi manusia bodoh yang udah ninggalin kamu. Aku nggak bermaksud jauhin kamu. Aku nggak mau aja jadi orang yang nggak bertanggung jawab atas hubungan kita. Mending putus, jadi orang jahat, dibanding ninggalin kamu tanpa kabar apa pun.


Aku kecanduan, Grace. Papa udah tau kalau aku pake obat-obatan. Dia marah besar. Aku nulis surat ini di tempat rehabilitasi. Tapi lagi-lagi aku sakau. Aku nggak bisa tahan lebih lama tanpa mereka. Susah, Grace. Mending aku mati daripada nggak pake obat. 


Makasih udah jadi tempat paling nyaman buatku. Makasih buat waktu pendek yang udah kamu habisin sama aku. Mungkin nggak ada hal yang paling inginkan dibanding kamu. Makanya aku ngejaga kamu selama ini, karena aku menganggap kamu sebagai rumahku.


Jangan cari aku ya, Babe. Kali aja aku udah mati. Hehehe. I love you. 


Dino Satyabisma.


Surat kedua sepertinya bukan dari Dino. Karena tulisannya berbeda. Benar, surat itu memang bukan dari Dino, melainkan dari Ayahnya. Tulisannya cukup singkat. Namun mampu menjelaskan semuanya. 


Halo, Grace. Saya Ayah Dino. Saya berterimakasih karena kamu selalu ada untuk Dino selama ini, menjadi teman dan rumah untuknya. Dia selalu berkata seperti itu pada saya; bahwa kamu adalah rumahnya selama ini. Dia sakit, Nak. Dino masuk rehabilitasi karena obat-obatan, namun tidak bisa disembuhkan. Dua hari yang lalu, Dino sudah pergi ke surga. Dia menitipkan album itu pada saya agar bisa menyampaikannya ke kamu. Sekali lagi terimakasih atas apa yang sudah kamu berikan untuk anak saya. Sekian.


Aku menutup kedua surat itu dan memasukkannya kembali ke album. Kupandangi boneka itu dengan seksama, hingga tanpa sadar aku tersenyum. Kuusap kepala boneka itu. Rindu itu lebih menyiksa dari patah hati. Nyatanya aku tidak benar-benar patah hati. Perpisahan kami sangatlah biasa, tidak ada permusuhan atau saling menjauhi. Dino meninggalkanku secara baik-baik. 
Mereka salah jika mengatakan aku patah hati. Karena aku masih sedang jatuh cinta dengan Dino-ku sejauh ini. Aku tak pernah menganggap hubungan kita yang singat ini telah berakhir. Bagiku, Dino hanya pamit pergi. Perasaan ini masih untuknya. Walau dia telah jauh di sana.


“Aku kangen kamu, Babe,” lirihku sambil memeluk boneka pemberian Dino. 



-FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar