Kamis, 19 Januari 2017

Histeris? Pernah! || #10DaysKF

Sore itu aku menghabiskan hari terakhirku di kampus dengan Rangga. Kami duduk berdua menikmati batagor yang dari kemarin sudah memenuhi kepala Rangga. Sekian bulan bersamanya, aku baru sadar kalau Rangga itu antusias terhadap hal-hal seperti makanan pinggir jalan.


“Kamu kenapa sih, Tha? Wajahmu lesu amat, sampai batagor seenak ini dicuekin,” dia menegurku sambil tak henti mengunyah makanannya.


“Sebel nih,” ujarku lemas. “Tiga musibah sekaligus dalam satu hari. Mau histeris, tapi nggak ada tenaga buat marah-marah. Mental down banget pokoknya.”


Aku hanya mengaduk makananku. Berbeda dengan Rangga yang sudah beralih ke piring keduanya sekarang. Tidak masalah jika Rangga makan sebanyak itu. Asal dia sehat, aku turut bahagia. Asal jangan sampai sakit lah dianya.


“Cerita dong, Nitha. Biasanya kamu juga cerita masalahmu, kan?”


“Nanti kalau aku cerita mood aku malah berantakan gimana?”


“Ada aku, kan? Anggep aja doping.”


Perkataan Rangga membuatku memutar bola mata. Agak sedikit kesal memang. Sudah pernah kubilang kalau Rangga itu memang menyebalkan, kan? Tapi karenanya juga, aku dapat tersenyum setelah hanya kejengkelan yang aku rasakan seharian ini. Soal dia adalah doping, memang benar adanya. Kesalahanku saat beberapa minggu yang lalu aku mengatakan kalau dia adalah moodbooster untukku sekaligus doping yang membuat candu. Sejak itu, tingkat kepercayaandirinya semakin besar.


“Tadi pagi sebelum ke kampus, ban sepedaku bocor,” aku mulai bercerita. Dan di saat yang sama, Rangga berhenti menyantap makanannya. Namun mulutnya yang masih penuh tetap aktif mengunyah dalam diam. “Lama banget mas-masnya nambal itu ban sepeda. Udah gitu ya, mana panas lagi. Oke lah nggak masalah kalau panas dan segala macem. Tapi ini nambal udah lama, eh mas-masnya juga keasikan ngobrol sama temennya. Rumpi, kan? Nggak tau apa kalau aku mau kuliah.”


“Nggak tau lah, Tha. Kan kamu nggak bilang ke mas-masnya.”


“Rese kamu mah,” ujarku kesal. Hancur sudah niatku bercerita.


“Hey, hey, jangan ngambek dong,” Rangga mengusap pelan rambutku. Dia tersenyum, membujukku agar melunak sedikit. Kuhembuskan napas pelan, kemudian mengangguk saat dia mengatakan maafnya padaku. “Lanjut ceritanya kalau gitu.”


“Ya kan habis nambal, aku ke kampus. Pastinya telat, kan? Dosennya belum masuk. Lebih tepatnya dosennya dan aku tuh jalan barengan ke kelas. Terus pas aku duduk, beliau manggil aku. Ditanyain kan tuh, kenapa baru duduk dan lalala.”


“Lalala?” Rangga mengernyitkan dahi. Aku tersenyum kecil. Wajahnya lucu.


“Maksud aku ya pokoknya dosennya ngoceh gitu. Marah-marah sama aku. Lah aku udah kesel, ban bocor, disemprot sama ocehan pagi-pagi ketika belum sarapan, ya aku ikutan ngoceh. Walau nggak ngelawan banget. Tapi ya tetep aja ngeyel akunya. And you know what? Aku dikeluarkan dari kelas.”


Rangga tidak berkomentar apa pun. Dia masih sibuk mendengarkan sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Makanan di tangannya tidak dia jamah kembali. Sudah menjadi kebiasaannya menghargai orang yang sedang mengajaknya berbicara. Walau sebenarnya aku tidak pernah keberatan kalau Rangga makan sambil mendengarkan ceritaku. Tapi dia sendiri yang memutuskan seperti itu. How cute he is?


“Terus yang ketiga apa?” tanyanya pelan.


“Hmmm, ini sih yang paling bikin mood berantakan,” kataku lemas. Air mataku sudah menggenang walau senyum terpaksa sudah aku tunjukkan pada Rangga. “IPK aku turun, Rang. Rasanya aku pengen teriak di dalam helm karena nggak mau bikin keributan tau nggak?”


Pada akhirnya aku menangis. Kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Rangga hanya mengusap rambutku pelan sambil menepuk pundakku. Memang seperti ini caranya menenangkanku. Dia tidak pernah menghentikanku saat sedang menangis. Dia selalu berkata kalau air mata itu mengandung hormon yang perlu dikeluarkan. Jadi orang yang menangis itu seringkali merasa lega walau menangis tidak menyelesaikan masalah.


“Kayaknya kamu emang bener-bener harus histeris deh, Tha,” kata Rangga pada akhirnya. Dan ucapannya membuatku berhenti menangis –––tapi belum bisa berhenti sesenggukan.


“Maksud kamu?”


“Ya gimana ya? Nangis boleh lah, tapi sesekali kamu scream voice kayaknya keren.”


“Rangga ih!” aku memukul lengannya, dan dia hanya tertawa.


“Loh, emang salah? Nggak ada yang ngelarang seorang Nitha buat...”


“Diem nggak!” potongku cepat.


Dia hanya mengangguk sambil mengangkat dua jarinya menandakan perdamaian. Kemudian dia mengeluarkan tisu dari dalam tas dan mengusap air mataku dengan tisu itu. Bagaimana aku tidak sayang terhadap orang yang membuatku merasa gemas dan bahagia di saat bersamaan? Menyebalkan, kan? Iya. Sangat.


“Kamu pernah nggak sih mengalami hal-hal yang bikin kamu histeris, Rang?”


Aku bertanya iseng padanya saat dia memasukkan tisu ke dalam tasnya kembali. Lucunya seorang Rangga adalah; dia tetap terlihat maskulin walau di dalam tasnya terdapat tisu. Bahkan ketika dia mengeluarkan benda itu dari tasnya pun masih tidak mengurangi kecowoaannya.


“Pernah dong,” katanya bangga.


“Iya? Kapan?”


“Hmm, kalau ketemu pak Ahok, aku bakal histeris.”


“Katanya pernah. Itu mah belum kejadian, Rang.”


“Iya, ya? Hmm, kamu tau kan hidup aku ya gini-gini aja,” iya aku tahu, walau gini-gininya Rangga berbeda dari gini-gininya aku. “Jadi aku mungkin akan mengungkapkan hal-hal yang bakalan bikin aku histeris aja kali ya?”


Kuanggukan kepala. Pertanda menyetujui omongannya.


“Ya itu tadi, yang pertama ketemu pak Ahok. Terus, mungkin keterima polisi padahal aku masuk jurusan pemesinan,” aku mengerutkan kening, tapi tidak berniat memutus omongannya. “Yang terkahir, yang mungkin bakalan bikin aku amat-sangat-sungguh-sebenarnya-terutama...”


“Rang, please! Serius.”


“Oke, Honey,” nah, dia paling pintar membuat orang meleleh. “Yang paling bikin aku histeris, ketemu sama setan.”


“Kamu-apa? Setan?”


“Aku manusia lah, Nitha!”


“Kamu takut sama setan?”


“Ya nggak takut gitu sih, tapi agak geli.”


Aku tersenyum. Kugelengkan kepala karena tidak menyangka perkataannya. Seorang Rangga Pramudia, bisakah kita percaya? Bisa. Tapi itu memalukan, man. Kalau ketemu pak Ahok, ya mungkin aku juga akan sedikit tersenyum sana-sini karena berhadapan dengan salah satu tokoh tersohor di Indonesia. Menjadi polisi? Ya, bagi beberapa orang yang menginginkan pekerjaan tersebut pastilah pantas kalau histeris saat kita bisa mencapai keinginan itu. Tapi... bertemu setan?


“Emang kamu nggak geli kalau ketemu setan, Tha?”


“Suka ngawur ya kalau ngomong,” bentakku tanpa bisa menahan senyuman karena tingkah Rangga semakin menjijikkan.


Lambat laun aku sadari, Rangga sedang menghiburku. Pikiranku sukses teralihkan oleh ucapannya soal hal-hal yang membuatnya histeris. Dan dari percakapan-percakapan kecil kami, aku menyadari kalau sebuah rasa nyaman tidak harus didatangkan dari materi. Tidak juga dalam bentuk kata-kata motivasi. Cara Rangga menumbuhkan rasa nyamannya adalah saat dia ada di sampingku, menghiburku, dan seringkali mengajakku menghadapi masalah itu bersama-sama.



-FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar