Jumat, 20 Januari 2017

I Don't Wanna Live Forever | #10DaysKF



Been sitting eyes wide open behind these four walls,

Hoping you’d call,




Jihan terduduk di tepi ranjang. Matanya menyusuri ruangan yang mengurungnya selama dua puluh empat tahun. Kamar yang menjadi dunianya selama ini. Kamar yang selalu menjadi tujuannya mencapai rumah kembali ketika perjalanan panjang telah menyita tenaganya selama ini. Hingga kenyamanan itu terusik oleh sosok Bram yang muncul dalam pikirannya. Lagi-lagi pria itu. Pria yang membuat Jihan kalut oleh kebingungan perasannya sendiri.



Pandangan Jihan teralih pada ponselnya yang tertengger di atas nakas. Fisiknya menahan diri untuk tak meraih ponsel itu. Sayangnya, hati Jihan meracau parah. Mulutnya ingin kembali bercengkrama dengan Bram, telinganya masih sanggup mendengar cerita panjang Bram. 



It’s just a cruel existence,

Like there’s no point hoping at all,



“Haruskah aku segalau ini karena kamu, Bram?” Jihan mulai bermonolog di tempatnya. Dia menatap ponselnya dengan mata sayu. Ditekuknya kedua kaki dan tangannya memeluk sepasang kaki itu. 

Nyatanya, Bram memang candu baginya. Tak tahu sejak kapan rasa nyaman itu menelisik masuk ke dalam lubuk hatinya. Membuat ia merasa nyaman tatkala mata Bram menatapnya. Ada sepercik perasaan yang tak bisa dijelaskan, rasa yang belum pernah iarasakan ketika bersama orang lain.



“Aku cuman pengen denger suara kamu, Bram,” ucapnya pelan sebelum memutuskan untuk terlelap dalam tidurnya kali ini. 



*



Baby, baby, I feel crazy, up all night, up all night and every day,

Give me something, oh, but you say nothing,




Rindu itu lebih menyiksa daripada patah hati. Kekecewaan dapat dialihkan oleh kesibukan. Sedang rindu, kau harus berjuang agar bisa menekan perasaan itu sendiri. Mengatakan pada dirimu bahwa berharap akan membuat rindu menyiksamu semakin kejam. 



“Kenapa kamu nggak ngomong sama Bram kalo kamu kangen aja sih, Jihan? Repot kalau kamu nungguin cowok keras kepala kayak dia.”



Jihan hanya tersenyum. Jika saja menekan ketakutan bisa segampang teorinya, maka Jihan tak akan menunggu lama untuk menghubungi Bram. Nyatanya gadis itu terlalu merasa pengecut, ia selalu merasa bahwa mungkin saja Bram enggan dihubungi olehnya lagi. 



“Kalau boleh berharap, aku pengen Bram yang menghubungiku duluan. Tapi di sisi lain aku sadar, nggak ada hal yang perlu dibahas. Jadi aku rasa, dengan Bram nggak menghubungiku duluan kayak sekarang, bisa disimpulkan kalau hubungan kita udah berakhir. Dilihat dari segi mana pun,” Jihan menghela napas pelan. Disesapnya kopi pahit itu.



*




I don’t wanna live forever,

Cause I know I’ll be living in pain,



Jemari lentik Jihan mengaduk tehnya. Pandangannya menyapu jalanan yang diterpa hujan. Dari dalam sudut cafe tempatnya meneduh, ia dapat melihat beberapa orang yang berlarian untuk sekedar menyelamatkan diri dari tetesan hujan. 



Hingga matanya menangkap sosok Bram di depan jendela kaca di samping pintu masuk cafe. Bersama seorang gadis berambut panjang yang tersenyum manis pada pria jakungnya. Dulu. Pahitnya kisah hidup Jihan yang sekarang hanya karena perkara cemburu pada sosok di samping mantan kekasihnya.



Jihan menatap gelas tehnya. Ia berharap, sosok Bram di depan sana hanyalah khayalannya semata karena rindunya pada pria itu sudah terlalu menggebu. Lalu ditolehkannya lagi pandangannya ke depan pintu kembali. Di sana masih sama. Masih ada Bram yang kini memeluk pundak gadis yang berhasil membuatnya cemburu. 



*

“Jihan, apa yang kamu ingikan di ulang tahunmu kali ini? Aku bakal menuruti semuanya.”

 
Senja saat itu terlihat elok. Dua pasang mata menatapnya dengan hati bahagia. Gadis di samping Bram tersenyum kecil sambil berpikir apa yang benar-benar diinginkannya kala itu. Sesuatu yang sulit tak memberatkan Bram, namun masih bisa membuat pria muda itu tertantang.


“Aku... pengen jadi cewek paling bahagia di dunia,” kata Jihan dengan antusiasnya. “Aku pengen bikin semua cewek yang ngeliat iri ke aku karena punya pacar sebaik kamu, Bram.”


Pria itu hanya termangu. Tak menyangka jika ucapan gadisnya akan semanis itu. Ia lantas menarik Jihan dalam pelukannya. Diucapkannya berkali-kali kata terimakasih karena sudah menjadi gadis yang selalu ada untuknya selama ini.


“Aku pengen hidup selamanya dalam kisah kita, Han,” bisik Bram di sela pelukannya. 



*


“Tapi aku nggak pernah mau hidup selamanya, Bram,” lirih Jihan pada secangkir teh di hadapannya. “Aku nggak bakal mau hidup dalam rasa sakit kayak gini. Aku cuman pengen bahagia bareng kamu.”




*




And I don’t wanna fit wherever,

I just wanna keep calling your name,

Until you come back home,




Malam melahap senja dalam hitungan menit. Menghadirkan angin liar yang dengan cepat membalut dingin. Membuat penikmat jalan semakin bergidik karenanya. Termasuk Jihan yang mengumpat dalam hati karena mobilnya harus berada di bengkel dan mengharuskannya menikmati transpotasi umum malam itu.




“Nggak bawa jaket, Han?”



Kepala Jihan menoleh ke samping kanannya. Tubuhnya mendadak kaku melihat sosok Bram berdiri sambil tersenyum padanya. Senyuman penuh ketulusan. Bukan sepertinya yang hanya diam mematung, Bram di hadapannya itu terlihat bahagia. 



Apa luka itu tidak pernah hadir dalam hidupnya hingga masih terpapar wajah bahagia itu hingga hari ini? Ataukah hanya Jihan seorang yang dilanda sakit hati? Bagaimana dengan pria itu?




“Jihan,” Bram melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.



“Eh, iya?” 



“Kamu bawa jaket nggak? Kemeja pendek kamu bisa bikin kamu masuk angin nanti.”



Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Jihan memohon pada Tuhan agar tak terlalu melambung karena ucapan Bram. Logikanya percaya jika Bram hanya sekedar mengingatkannya. Bukannya perhatian padanya seperti dulu kala. 



“Pakai punyaku aja deh ya,” Bram melepas jaketnya sebelum Jihan sempat menolak.



Jangankan menolak kebaikan Bram. Untuk menyapa kembali sosok Bram di hadapannya lidahnya terasa kelu bukan main. Antara rasa bahagia, merasa takut, dan bersalah secara bersamaan. Tapi tetap saja, Bram tetap menjadi candu bagi Jihan. Matanya yang meneduhkan membuat degupan di jantung Jihan kembali melonjak hebat. 



“Wanita karir kayak kamu pantang buat sakit, Han. Pasti repot kalau kamu nggak bekerja sehari aja, iya kan?” Bram terus mengoceh saat mereka berdiri berdampingan di dalam busway.


Kediaman itu kini menguasai mereka. Jihan bersikap kikuk, tak tahu harus bagaimana. Sedang Bram hanya diam, tidak mencoba membuka perbincangan kembali. Hingga gerombolan lain memenuhi busway. Membuat mereka mau tak mau saling berhimpitan satu sama lain.


Busway berhenti sejenak. Membuat penumpangnya sedikit terhuyung maju. Begitu pun Jihan yang kini dalam rengkuhan Bram. Mereka terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya saling tersadar dan saling menjauhkan diri. 



Hujan kembali mengguyur Jakarta. Membiarkan penikmat jalan semakin merasa jengkel karena dingin semakin menusuk tulang. Dan di antara orang-orang yang sedang mengumpat dalam hatinya, Jihan sedang memperhatikan Bram dalam diam.



Bisakah aku selalu sakit dan dipertemukan denganmu dalam keadaan ini, Bram? Aku rindu bagaimana kamu memperlakukanku seperti ini, rintih Jihan dalam hati.




*




Wondering if I dodged a bullet,                         

Or just lost the love of my life,




Jihan dan Bram turun di tempat yang sama. Dan di saat Jihan berhenti untuk menepi dan meneduh, pria itu masih di sana. Berdiri di sampingnya dengan senyuman kecil. Jihan menghembuskan napas pelan. Dilepasnya jaket Bram dan diberikan pada sang pemilik.



“Makasih Bram,” katanya pelan. Bram menerima jaketnya kembali tanpa berkomentar apa pun walau wajahnya menunjukkan kebingungan. “Makasih juga udah nyapa aku lagi. Mungkin kalau kamu nggak nyapa aku lagi, aku nggak bakalan bisa nyapa kamu duluan. Kamu tau kan aku terlalu pengecut untuk sekedar berhadapan sama kamu.” 



“Jihan...”



Aku berharap kamu nggak bosan nyapa aku ya, Bram. Semoga aku bisa seberani kamu nantinya untuk nyapa kamu lebih dulu,” ucap Jihan. Tulus. “Aku pergi duluan.” 



Dan kepergian Jihan yang berjalan memunggungi Bram menghadirkan rasa kelegaan di relung hatinya. Ia lega bisa menatap Bram sedekat itu, mendengar suara paling merdu, dan menatap mata sayu yang menyejukkan hatinya.



Harapan itu masih ada; tentang cerita mereka untuk selalu bersama. Tersimpan rapi di dalam hati Jihan, tanpa pernah terungkap ke permukaan. Ia rasakan sendiri. Merintih karenanya sendiri, namun belajar untuk bangkit dengan caranya sendiri juga.





-FIN

Story based from song by Zayn Malik ft Tylor Swift

Tidak ada komentar:

Posting Komentar