Kamis, 26 Januari 2017

ABOUT ME? | #10DaysKF


Kadang menyimpulan perilaku orang di saat pertama kali bertemu itu gampang-gampang susah. Itu terbukti ketika aku menilai orang. Kadang tebakanku benar, kadang juga salah. Dan ternyata ha itu terjadi pada orang lain juga. Teman dekatku kerap salah sangka tentang sifatku yang sebenarnya.


Mereka bilang aku ini jahat.


Pertama kali melihatku, kebanyakan mereka berkata seperti itu. Tatapanku yang cenderung biasa dan wajahku yang terkesan tak ramah membuat mereka enggan mengajakku berbicara. Hingga pada saat kami benar-benar dekat, mereka selalu berkata, “lo itu orangnya supel deh, asli. Gue kira selama ini lo tuh judes, jahat, kayak nenek tiri.” 


Nah loh, nenek tiri itu seperti apa?


Mereka bilang aku ini pendiam.


Aku hampir tertawa saat mereka mengatakan itu. Lagi-lagi kesan pertama. Ya memang, kalau tidak ada hal yang dibicarakan aku cenderung diam. Jarang sekali aku diam, pasti ada hal yang aku bahas dengan orang lain. Jadi bisa dikatakan aku ini cerewet. Sangat cerewet. 


Mereka bilang aku suka membicarakan orang lain.


Kalau soal ini aku tidak terlalu menyangkal. Baiklah, jahat memang kalau membicarakan orang, entah soal kebaikan atau soal kebaikannya. Tapi seperti yang aku katakan di atas, aku ini suka bicara dengan banyak orang, saling bertukar pikiran, dan aku tak segan mendengarkan cerita orang lain. Tentu bukan karena aku bisa menyebarkannya. Melainkan untuk meminta pendapat dengan orang lain. Contohnya begini; 


“Katanya, harga jengkol naik ya?” tanyaku pada seorang teman.


“Ah, masa iya?” tanyanya kembali padaku. 


“Si Candra bilang gitu kemarin. Nggak tau bener apa enggak.”


“Lo sih percaya sama cerita. Buktiin sendiri dong.” 


“Ya kan gue cuman dikasih tau.”


Seperti itu. Kadang aku menjadikan apa yang aku bahas dengan orang lain sebagai topik pembicaraan dengan teman. Jadi bagaimana bisa aku tidak mengatakan; “Loh, aku tau dari temanku sih begitu. Dia kan...” 


Ya, ya, baiklah jika memang aku suka menyangkutkan nama orang di dalam pembicaraanku, tapi sama sekali aku tak berniat membicarakan dia di belakangku.


Mereka bilang aku pandai.


Kalau soal ini, aku bukannya senang, tapi malu. Bukan hanya cerewet, aku ini suka menulis cerita, membaca buku, dan melihat film-film bahkan serial drama. Karena aku juga seorang pendengar –––lepas dari pendengar yang baik atau tidak––– jadi aku juga suka mendengar cerita kehidupan orang dan menanggapi masalah mereka. 


Di sinilah kesalahpahamannya. Hanya karena aku suka memberi nasihat atas apa yang mereka permasalahkan, lantas aku ini dianggap pandai. Itu tidak benar. Aku tidak merasa sepandai itu. Toh aku mengerti harus bagaimana menjalani hidup ini dari mendengarkan cerita orang tua, dari buku bacaan, bahkan dari drama.


Kadang aku menertawai diriku sendiri. Di saat menghadapi masalah orang lain, aku bisa mmeberi mereka petuah, lalu apa kabar dengan masalahku? Entahlah. Aku masih bingung. Pandai menurutku adalah mereka yang antara ucapan dan tindakannya seimbang. Malah kalau bisa tindakannya lebih besar dibanding omongannya. 


Jadi sebanyak apa pun aku ada untuk mereka, memberi mereka pencerahan, aku rasa aku tak sepandai itu. Aku mungkin bisa menyimpulkan masalah, lalu berpikir cara penyelesaiaannya. Namun hal itu bukan benar-benar kepandaian jika tidak dapat diterapkan langsung bukan?


Pandai... berlebihan untukku.  


Mereka bilang aku baik.


Kemarin aku sempat membaca cerita seorang teman di dunia maya, tentang dua sisi koin manusia dalam hidupnya. Kita punya sifat baik dan buruk –––salah satu keadilan yang Tuhan berikan kepada para hamba-Nya. Kalau mereka bilang aku baik, belum tentu selamanya aku baik. Untuk catatan, aku hanya baik kepada mereka yang mau menghargaiku. Aku baik pada mereka yang berpikiran luas dan menghargai orang lain. Pada mereka yang bisa menerima kritik namun juga bisa menjadi orang yang mengkritisiku balik sekalian memberi nasihatnya. 


Pemilih? Ya, aku pemilih. Aku tidak sebaik itu. Kalau tulisan ini mengungkap sisi burukku, aku akui memang secara tak langsung aku begitu. Ada sebuah hadist mengatakan; sembunyikan kelebihanmu seperti kau menyembunyikan kekuranganmu. Lalu untuk apa aku malu pada keburukanku? Toh bagi mereka yang mengerti aku ini buruk, masih tetap bertahan di sekelilingku sampai sekarang. Itu yang aku sebut teman selama ini; saling menerima. Kebaikan itu nilai tambah. Yang terpenting bagiku adalah memperbaiki keburukan dan menggantinya dengan sikap yang lebih baik.



-FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar