Senin, 17 Februari 2014

Sebuah Rasa dan Cara Mengungkapkannya



               
Namanya Velina Maharessa, aku baru tau itu sebulan yang lalu. Velina pindah ke sekolah ini sebulan yang lalu, dan di hari pertama itu semua mulai menarik. Memang sih sayang sekali Velina ini nggak sekelas denganku, tapi mengenalnya itu menyenangkan.
                “Shea, kamu sedang sibuk tidak?” perkenalkan, ini Pak Fatah, Kepala Sekolahku yang bertubuh kurus kering. Tapi, walau begitu beliau orang yang hebat.
                “Tidak Pak, ada yang bisa saya bantu?”
                “Ini ada anak baru, namanya Velina dari Jakarta. Kamu antarkan ke 11-A5 ya, oh iya Velina, dia ini ketua OSIS, namanya Shea. Kamu bisa berkenalan sendiri nanti. Bapak tinggal dulu ya.”
                “Iya Pak!”
                Hari pertama bertemu semuanya masih bungkam, Velina berjalan mengikuti punggungku dan hanya diam. Sama sekali nggak ada yang membuka omongan, kecuali setelah kami sampai di kelasnya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih. Ya, semua masih sama sampai sekarang, tak ada sapa tak ada rasa. Emm, bagaimana ini? Aku tidak bisa menjamin kalau aku tidak memiliki rasa apa-apa dengan Velina.
                Seperti biasanya, hari senin ini Velina selalu datang sekitar jam setengah tujuh. Kemudian berbaris nomor tiga dari depan, selalu di banjar pertama pada saat upacara. Entah itu tempat favoritnya atau memang tanpa sengaja seperti itu.
                Aku tidak tau sejak kapan aku rutin mengikuti Velina ke perpustakaan setiap hari selasa, ada saja alasan aku ke sana. Seperti rapat OSIS misalnya, atau meminjam buku penunjang pelajaran, atau hanya duduk dan mengamati Velina. Andai kalian tau, gadis itu benar-benar tidak membosankan  untuk dilihat. Sangat menarik!
                “Shea, kamu ada acara nggak pulang sekolah nanti?” kalau dibilang ada acara resmi sih tidak, tapi kalau acara rutin sih ada. Menemani Velina dari jauh waktu dia nunggu supirnya yang setiap hari rabu lebih telat sekitar sepuluh menit dari biasanya.
                “Shea? Kok kamu ngelamun sih? Ada acara nggak?”
                “Emm, nggak ada sih, emang kenapa Diana?”
                “Anterin aku pulang ya, aku nggak ada yang jemput nih.”
                “Nunggu sepuluh menit mau? Nanti kamu tunggu di pos satpam ya.”
                “Oke deh nggak apa-apa. Makasih ya!”
                Setelah memastikan Velina pulang, aku menghampiri Diana. Dia teman sekelasku dari kelas sepuluh, lumayan akrab juga dengan Diana. Sebenarnya, dibandingkan dengan Velina, Diana lebih cantik, kaya, populer. Banyak yang suka sama Diana, orangnya baik sama semua orang. Bisa dibilang tipe ideal sih buat dijadikan pacar.
                Setelah lama diperjalanan, Diana mengajak mampir ke sebuah rumah makan. Aku pikir dia hanya bisa bicara sama orang-orang di sekitarnya, ternyata semua wanita sama. Suka bicara kalau memang ada topic yang dibahas. Sampai akhirnya, Diana mulai membicarakan perasaannya, terutama terhadapku. Aku tidak pernah sadar kalau Diana menyukaiku, sejak masih kelas sepuluh katanya. Lama sekali, kenapa dia bisa tahan menyimpan perasaan ketimbang mengungkapkan ya? Ah, seperti aku sendiri nggak kayak gitu. Tidak! Aku tidak bisa menerima Diana, aku nggak punya perasaan sama dia. Terlebih perasaanku untuk orang lain.
                Tapi, kenapa gadis baru yang berusia satu bulan itu? Kenapa Velina yang mengganggu pikiranku. Dia hanya gadis berrambut sebahu, selalu memakai jaket ketika datang dan pulang sekolah. Kenapa harus gadis yang suka membaca karya Khairil Anwar itu? Kenapa aku rela menghabiskan waktu istirahat setiap kamis hanya untuk melihat Velina membaca karya Khairil Anwar. Kenapa aku rela menunggunya berdiri dan sama-sama memesan bakso bersamanya. Ada apa denganku? Bahkan aku suka mengetahui aktifitasnya tanpa mengeluh bahwa aku lelah mengamatinya. Ah, aku tidak akan pernah lelah selama jantungku masih berdegup kencang kelika melihat mata Velina.
                “Ehem!” aduh siapa ya? Tapi ini suara cewek kok? Masa Velina tau sih aku lagi perhatiin dia dari tadi? Buku, butuh buku nih, bukunya siapa ya? Ah, terserah deh.
                “Shea, kamu kok grogi gitu sih?”
                “Loh, Diana, kamu ngapain di sini?”
                “Aku, ngikutin kamu kok. Tumben banget sejak sebulan yang lalu kamu selalu dateng ke perpus setiap hari selasa. Ya aku ngerasa kelakuan kamu aneh, tapi ya apa salahnya kan aku ngebuntutin kamu yang ternyata kamu sendiri lagiii…..”
                “Aku lagi apa?” duh masa Diana tau sih? Jangan sampai dong.
                “Suka baca majalah gadis? Kamu… sejak kapan?”
                “Ohh, enggak kok, cuma asal ngambil aja. Pengen tau majalah cewek itu kayak gimana.”
                “Yakin?”
                “Yaaa… ya yakin lah! Yakin dong!”
                “Serius ke sini cuma buat baca majalah gadis? Bukan buat ngeliatin Velina setiap selasa?”
                “Apa? Kok kamu mikirnya ke situ? Emm, Velina itu yang mana ya?”
                “Kok kamu gitu sih? Kamu itu cowok!”
                “Sssttt, kita ini di perpus, jangan teriak-teriak gitu dong Diana.”
                “Habisnya aku sebel sama kamu, kamu nggak nyadar apa kalau kamu ini udah sebulan kayak orang gila? Nggak pernah ada di kelas, selalu pulang telat kalau hari rabu, rutin datang ke kantin setiap kamis, dan sejak kapan kamu suka sama bakso? Kamu itu… kamu kenapa sih?”
                “Aku nggak apa-apa kok, makasih udah khawatir. Bentar ya aku pergi dulu.”
                “Mau kemana? Mau buntutin Velina lagi, iya? Mau ngikutin dia ke mana lagi? Kamu nggak capek apa? Betah banget kamu kayak gitu.”
                “Bukannya lebih lama kamu ya kalau soal suka? Satu tahun kan kamu? Emm, maaf bukannya aku mau nyinggung Di, maaf ya.”
                “Enggak apa-apa kok, tapi kasusnya beda Shea. Kamu ini cowok, kamu harusnya lebih bisa mengungkapkan perasaan kamu. Cewek itu kalau udah suka dan nggak berani ngungkapin, dia Cuma bisa diem dan berharap orang yang di suka itu nyadar. Emang aneh sih, tapi nggak aneh kalau tugas cowok itu emang yang ngungkapin perasaan. Umumnya kan gitu.”
                “Sayangnya kita nggak saling kenal, cuma hari itu aja kok. Itu juga kebetulan.”
                “Kalau dia udah punya cowok gimana?”
                “Ya mungkin aku bakalan ngelepasin dia.”
                “Sakit dong!”
                “Resiko kan? Ya mau nggak mau harus gitu kan Di?”
                “Terserah kamu deh, aku tinggal dulu ya.”
                “Mau kemana kamu Di?”
                Punggung Diana semakin menjauh, kemudian hilang di pintu keluar. Ah, kalau begini susahnya memendam perasaan kenapa wanita bisa tahan selama itu. Tapi, aku juga nggak bisa menyimpulkan kalau ini perasaan suka kan? Sedangkan aku sendiri cuma suka melihat Velina tersenyum, melihat matanya ketika melamun. Aku nggak pernah membayangkan kalau Velina punya pacar. Sepertinya sangat sakit walau hanya membayangkannya. Udah ah, balik ke kelas aja kalu gitu.
                “Velina?” duh sejak kapan Velina di situ? Tau gitu nggak usah balik badan deh kalau tau ada Velina. Jangan grogi Shea, kamu itu cowok, ketua OSIS lagi. Pasti bisa! Mimpin OSIS aja bisa masa mimpin hati sendiri nggak bisa.
                “Hai, emm… aku sebut kamu apa ya? Secret Admirer?”
                “Sejak kapan kamu berdiri di belakangku?”
                “Sejak kamu ngobrol sama Diana.”
                “Kamu kenal Diana?”
                “Dia temanku dari SMP, aku minta Diana buat ngamatin orang yang jadi Secret Admirer ku akhir-akhir ini. Aku pengen tau seluk beluk orang itu, aku pengen tau seberapa dia berkorban sebagaiii… emmm… apa ya? Penguntit?”
                “Maaf ya, aku nggak bermaksud buat kamu nggak nyaman. Aku nggak sadar kalau kamu itu tau aku suka liat kamu, emm, sekali lagi maaf. Aku janji aku nggak bakalan ganggu kamu lagi. I cross my heart and I promise.”
                “Kamu yakin nyilang hati kamu buat nggak ngikutin aku lagi nggak bakalan berefek?”
                “Maksud kamu?”
                “Emm, aku pengen kenal kamu.”
                “Apa? Kamu bilang apa, Velina?”
                “Aku pengen kenal kamu, dengan syarat kamu harus cerita apa yang kamu tau tentang aku.”
                “Tapi, aku kan udah…”
                “Hanya ada satu kesempatan. Deal?”
                “Emm… iya, deal!”
                “Kenalin, aku Velina Maharessa. Kamu?”
                “Aku Shea Davidson Gofarolli Akbar, tapi terkenal dengan nama Shea.”
                “Apa yang kamu tentang aku?”
                “Kamu? Aku tau nama kamu Velina Maharessa sejak sebulan yang lalu. Kamu selalu datang di hari senin sekitar jam setengah tujuh. Berbaris di barisan ketiga dari depan dan berada di banjar paling kanan atau banjar pertama. Kamu selalu ada di perpus pada hari selasa pada jam istirahat. Hari rabu itu hari padat, kamu tetap di kelas walau sudah istirahat. Kemudian pada hari itu juga kamu pulang lebih lambat sekitar sepuluh menit karena supir kamu telat jemput. Setiap kamis…. Huuhh…”
                “Kenapa?”
                “Aku nafas dulu ya, jantungku degupnya kenceng banget ini,” Velina tersenyum liat tingkahku.
                “Oke!”
                “Setiap kamis, kamu akan ke kantin pada jam istirahat, beli bakso kemudian menikmatinya sambil membaca setiap buku Khairil Anwar. Hari jum’at, nggak ada yang special kecuali kamu terlihat lebih cantik pada jam olah raga. Dibandingkan dengan hari biasa, kamu menguncir rambut kamu. Hari terakhir hari sabtu, hari yang paling menyenangkan. Aku bersyukur kamu punya minat di organisasi sekolah. Walau hanya di redaksi majalah, aku suka bisa satu forum sama kamu… huuuhh… aku lega banget bisa bilang gini. Makasih!”
                “Waw! Keren banget.”
                “Jadi?”
                “Jadiii… kenapa?”
                “Kita bisa kenalan?”
                “Iya dong, lalu gimana…”
                Sebuah film pernah menggambarkan, bahwa yang namanya CINTA bila dimanfaatkan dengan jalan yang baik, maka hasilnya akan baik. Entah ini memang cinta, sayang, suka, atau kagum. Namun merasakan hal ini kepada orang baik seperti Velina sangat menyenangkan. Memiliki perasaan itu baik, karena membuktikan bahwa kita masih hidup. Tapi, memendam perasaan itu buruk, seperti bernafas namun tidak bergerak. Ya! Seperti orang sedang koma.

TAMAT

Hanya Sepenggal



                Masih sempat rupanya, tapi sampai kapan? Papa selalu seperti ini, tidak pernah mengerti Mama. Bukankah mereka menikah karena ingin melengkapi lubang dalam keluarga ini. Ah! Sampai kapan Papa selalu begini?
                “Kamu ini aneh kok, Han. Dia itu cuman Mama tiri kamu. Tapi amat sangat membela Mamamu,” kata Papa suatu ketika saat Papa pulang sangat larut.
                “Cuman? Apa Papa tau betapa senangnya Hana saat Papa menikah? Hana sangat mengharapkan sosok Ibu dalam kehidupan Hana, Pa! Kenapa Papa nggak pernah ngerti Mama sih? Bukankah Mama juga butuh Papa di rumah?”
                “Mama kamu di sini kan buat nemenin kamu, biar nggak kesepian. Ada Adi juga kan?”
                “Hana nggak ngerti sama jalan pikiran Papa.”
                Tidak tau lagi, apakah Papa benar – benar peduli dengan keluarga ini. Papa sudah menjadi single parent saat aku SD. Kemudian menikah dengan Mama saat aku masuk SMP. Saat itu juga aku menyukai Mama dan keluarga kami menjadi membaik dengan adanya Mama. Tapi, tiga tahun belakangan ini Papa terlihat aneh sekali. Adi, anak Mama berusia 5 tahun dari pernikahannya dulu kurang dekat dengan Papa. Sangat sulit bagi Papa untuk mendekati Adi. Apa mungkin itu yang membuat Papa terlihat stress tiga tahun belakangan ini ya?
                Bodohnya aku, semua teman kini tak menyukai keberadaanku di sekolah. Hanya karena sebuah issue dari kabar angin yang lewat. Papaku seorang Bupati, dan terkena tuduhan korup. Tidak mungkin, aku mengenal Papaku lebih dari siapapun! Papa juga terlihat bahagia di rumah walau kadang terlihat tak tenang dalam beberapa urusan. Namun yang aku tak suka saat Papa di rumah dalam keadaan tak tenang. Bukan aku yang menjadi pelampiasan, terlebih Mama. Terkadang Adi juga melihat pertengkaran tanpa kontak fisik itu. Hanya teriakan yang membuat Adi menangis jika mereka bertengkar hebat.
                “Kenapa, Pa? Bukankah Papa yang mengajari Hana kalau misalnya mencuri itu dosa?”
                “Papa melakukan ini karena…”
                “Karena apa? Karena keluarga kita? Apa Mama, aku , dan Adi pernah menuntut sesuatu.”
                “Bukan, Hana! Papa melakukan ini karena Papa sayang kamu. Kalau saja kamu tau apa yang sedang kamu alami, Hana. Papa bersikeras mencari uang untuk pengobatan kamu. Bahkan Papa menikah lagi agar ada yang menemani kamu.”
                “Memangnya Hana sakit apa, Pa?”
                “Kamu… apa yang kamu keluhkan satu tahun terakhir ini?”
                “Penglihatan Hana kabur dan… apa yang terjadi sebenarnya…?”
                “Almarhum Mama kamu adalah seorang fotografer yang sangat hebat. Tapi dia juga seorang yang bendel seperti kamu. Beliau tidak pernah bosan saat masuk ke ruang cetak dan menghabiskan waktu di sana. Namun, dia terkena penyakit mata. Hal ini sangat umum bagi fotografer, dan saat itu dia sedang mengandung kamu.”
                “Jadi… Hana terkena penyakit Mama? Penyakit itu diturunkan ke Hana? Iya Pa?”
                “Maaf Hana…”
                Tiga bulan kemudian Papa masuk penjara. Papa memang bukan orang jahat, dia tidak bisa. Lambat laun aku memang merasakan mataku kerap sakit. Mama membimbingku untuk terus ke dokter. Ya! Aku memang sakit. Sakit warisan dari Mama kandungku. Tapi, aku senang aku bisa jadi bagian dari Mama. Sekarang, kehidupan baru akan dimulai. Papa akan bebas, aku akan buta tapi aku senang aku masih bisa menikmati hidupku dengan Mama dan Adi. Keluarga kecilku yang sekarang. Sepenggal kisah hidup yang tak selamanya berakhir bahagia. Jika kita sendiri tak berusaha menjadikan kisah itu menjadi kenangan indah nantinya.